Menulis di Blog sebagai Aksi Nyata GLS

Siapa yang belum pernah mendengar "Gerakan Literasi Sekolah"?

Gerakan Literasi Sekolah atau yang lebih dikenal dengan GLS ini bukanlah nama yang asing bagi insan pendidik dan tenaga kependidikan.

GLS merupakan salah satu bentuk kesadaran pemerintah akan pentingnya membangun budaya literasi dalam dunia pendidikan supaya tercipta budaya membaca dan menulis di lingkungan sekolah sebagai upaya terwujudnya long life education, pendidikan sepanjang hayat.

GLS ini dicanangkan dalam rangka menginisiasi Permendikbud No. 23 Tahun 2015 mengenai penumbuhan budi pekerti.

Program nyata ini banyak dilakukan di sekolah-sekolah dengan kegiatan berupa membaca buku (selain buku pelajaran) selama lima belas menit sebelum pelajaran jam pertama dimulai.

Untuk pembiasaan menulis, sekolah menyelenggarakan lomba mading (majalah dinding) dengan tulisan berupa pantun, puisi, cerpen, dan karya sastra lainnya.

Agar siswa aktif dalam GLS, tidak sedikit guru dan tenaga kependidikan juga ikut andil.

Setelah GLS didengungkan, banyak buku antologi karya guru terbit.

Untuk menggeliatkan GLS di sekolah tempat saya bertugas, saya mengajak guru untuk menulis. Agar guru yang menulis termotivasi, saya mengajak beberapa guru menulis di blog.
Guru yang telah mulai menulis di blog bersama saya antara lain:


Tulisan beliau bertujuh sangat berkarakter.

Teman-teman bisa mengecek sendiri dengan meng-klik-nya.

Selama tiga pekan berjalan, saya merasa perlu mengajak guru lain untuk menulis, antara lain:


agar semakin masif GLS di SMK Tunas Bangsa Tawangsari Sukoharjo.

Teriring doa untuk teman-teman guru di atas, konsisten menulis di blog agar menjadi bagian GLS.

Saya pernah dengan pernyataan, "Dengan menulis, pasti membaca." Agar seseorang bisa menulis, dia harus membaca terlebih dahulu. Sadar atau tidak sadar, pasti membaca dulu untuk mendapatkan inspirasi menulis.

Semangat terus untuk menulis. Semoga tulisan di blog masing-masing menjadi karya yang dapat menjadikan guru itu mulia. "Guru Mulia Karena Karya" kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

9 Strategi Budaya Literasi Ketika Koleksi Buku di Perpustakaan Sekolah Terbatas

Pengajaran Sesuai dengan Tingkat Kemampuan

Buka Pagi